Jumat, 29 Juni 2007

secuplik pembangunan pasar

Tulisan ini hanya sekecil bentuk kebingungan melihat tempat di lingkungan sendiri telah berubah drastis. Tak ada yang salah dengan perubahan, hanya kekhawatiran berlarut-larut dari segala yang terjadi di negeri ini.


Baru-baru ini Jakarta memiliki sejumlah PD Pasar Jaya baru, sebut saja Pasar Santa di Kebayoran Baru, Pasar Bukit Duri dan Pasar Cakung. Gubernur Sutiyoso menyatakan bahwa peremajaan pasar menganut dua prinsip. Pertama, pedagang lama harus semua masuk, dengan harga penggantian tempat lebih ringan. Kedua, harus mampu menampung sebagian pedagang kaki lima, dengan jumlah kuantitas tertentu. Peremajaan pasar ini dilakukan oleh PD Pasar Jaya. Disamping meremajakan 55 pasar, PD Pasar Jaya juga akan merevitalisasi delapan pasar. Berbeda dengan peremajaan pasar yang membongkar seluruh bangunan lama, revitalisasi hanya menata sebagian. Dengan kata lain ganti wajah lama.
Seratus lima puluh satu pasar tradisional dimana 141 pasar berada di pemukiman warga di Jakarta. Dari jumlah itu, semenjak 2007 akan merenovasi 55 pasar secara bertahap. Namun, ada beberapa renovasi pasar yang akan melibatkan pihak ketiga dan ada yang dilakukan oleh PD Pasar Jaya. Kabarnya, target pembangunan akan selesai tahun 2009. Pasar Santa, Bukit Duri dan Cakung tidak termaksud dari planning renovasi pasar program peremajaan yang direnovasi. Hal ini turut mengundang pertanyaan. Dari mana dana untuk pembangunan pasar tersebut dan bagaimana urusan pemindahan lahan bagi pasar lama?
Ambil contoh di Pasar Bukit Duri. Baru beberapa tahun silam pasar ini terbakar. Puluhan kios terbakar, dan tak lama setelah musibah tersebut—dikabarkan karena hubungan arus pendek—seakan dibangun pembangunan ’pasar darurat’ dengan kayu seadanya dan memakan lahan jalan umum sehingga tak jarang terjadi banjir dan kemacetan. Dan beberapa tahun kemudian telah dibangun gedung hanggar yang disebut-sebut sebagai pasar percontohan pembangunan pasar kelas C atau pasar yang berada dikawasan pemukiman penduduk.
Ada apa sebenarnya dengan pembangunan hanggar ini? Wajar banyak yang mengira pembakaran pasar lama seakan disengaja, dan ini memang perlu penyidikan lebih lanjut. Dan bagaimana dengan penggunaan dana yang digunakan? Biaya yang diberitakan mencakup Rp4,6 Miliyar ini akankah memberikan pelayanan lebih baik ketimbang pasar tradisional?
”Kehadiran pasar modern disekitar pasar tradisional seharusnya tidak saling merugikan, justru saling melengkapi.” Itulah tutur Ketua I Pusat Koperasi Pedagang Pasar (Puskoppas) DKI Jakarta. Kontradiksi. Fakta di lapangan, tepat disamping pasar Bukit Duri terdapat minimarket, dan ini menandakan memang telah ada arus bargaining dan jual beli sejak lama. Dan kini dalam kawasan sama terdapat pasar modern, minimarket dan pasar tradisional.
Kewaspadaan memang penting, dan memang tidak sepantasnya menjadi alasan kekhawatiran berlebihan. Pasar modern dan pasar tradisional yang berada dalam satu kawasan seharusnya memang harus saling melengkapi dan ini akan menguntungkan konsumen. Pasar tradisional harus berbenah diri dan kekhasan harga barang yang bisa ditawar memang menjadi daya tarik sendiri. Tapi disisi lain, pasar modern dengan harga yang tinggi tidak dipungkiri akan dijauhi pembeli lantaran harga sewa yang tinggi, apalagi jika disamping kanan-kiri telah dibangun minimarket. Perlukah pembangunan pasar baru lagi dalam kawasan berdekatan???

Tidak ada komentar: