Reformasi antara harapan dan realita
Tebal halaman : 265 + xii
Tahun : 2003
Penulis : Sulastomo
Penerbit : Kompas
bagian pertama
Bunga Rampai
Sistem multipartai sangat sulit menghasilkan pemerintahan stabil. Pemerintahann Ali-Rhoem-Idham tampil usai Pemilu 1955 yang merupakan koalisi partai pemenang pemilu, PNI, Masyumi dan NU hanya bertahan 14 bulan. Masa jabatan presiden sebaiknya dibatasi selama 2 periode, kedua pengaturan hak preogatif presiden, penetapan anggota lembaga tinggi dan tertinggi negara harus demokratis, ketiga masalah hubungan luar negeri, khususnya keterikatan Indonesia pada ekonomi dan utang luar negeri, keempat kemungkinan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung dalam satu paket.
BUMN harus ditata kembali, sehingga peranannya untuk memenuhi hajat hidup orang banyak, seta menjaga pendayagunaan SDA agar memberi manfaat untuk kemakmuran rakyat. Masalah pelaksaanan hukum, supremasi hukum, yang melandasi sistem politik dan ekonomi. Jika tiga masalah pokok, sistem politik, ekonomi dan hukum mendapat landasan kukuh maka aspek manajemen negara perlu mendapat perhatian, hal ini karena bobot politik yang besar dilapisan bawah sehingga konflik kepentingan politik makin meluas.
Dari gagasan ’keruk nasinya’ bung Karno
Gagasan Kerukunan Nasional (Keruk Nasi) pasca 1965. Banyak yang percaya bahwa bibit perpecahan karena euforia demokrasi sebagai akibat tertutupnya keterbukaan dan demokrasi masa lalu. UU Otonomi Daerah, sebagai manifestasi semangat demokrasi dan desentralisasi ternyata diwarnai euforia yang menonjolkan plural Indonesia. Kekhawatiran stagnan jalan pemerintahan seudah mulai terdengar. Permasalahan lain masalah ekonomi daerah adalah sekitar pembagian rezeki falsafah konsep negara kesatuan bahwa masih harus mendahulukan kepentingan bersama, menggali persamaan dan tidak mementingkan kepentingan sendiri, kepentingan kedaerahan tidak tertutup kemungkinan kepentingan kalangan tokoh daerah, etnik, agama dan perorangan.
Tantangan berbangsa masih belum mantap, sehingga masih direkayasa oleh kekuatan dan tokoh politik dominan di jamannya.
Tertinggalkan peradaban kita?
Sayidima Ali dipenggal kepalanya pada peristiwa Karbala. Dalam sejarah modern, kita mengenal 2 bersaudara John Kennedy dan Robert Kennedy yang terbunuh ditengah masyarakat mayoritas Kristen. Meski agama mengajarkan kebaikan dan kasih sayang sesama manusia, kehadirannya menimbulkan kesalahpahaman dan reaksi keras. Hal itu merupakan bagian proses yang harus kita lalui. Semua itu apabila terus berlanjut dilihat dari standar kemanusiaan yang wajar, sedang mengalami proses degrasi kemanusiaan yang luar biasa. Peranan agama, sejak masa Bung Karno, sering dikatakan sebagai nation and character building. Formula ini melihat nilai agama, sebagai kekuatan moral positif bagi pembentukan karakter bangsa. Agama adalah potensi moral dan bukan sumber konflik. Karena penghargaan itu sehingga sering kali menjadi saling terasing dan saling mengenal.
Bimbingan terhadap umat beragama hanya dapat dilakukan oleh orang seagama. Landasan pemikirannya berdasarkan pendekatan komprehensif dari pengalaman agama yang mungkin duniawi (horizontal) sampai ke aspek keimanan, ketakwaan (vertikal), hubungan manusia dengan Tuhannya. Struktur organisasi itu membawa implikasi besar-kecil tanggung jawab pemerintah, terhadap besar-kecil organisasi direktorat jenderal.
Selain itu, pemisahan juga tidak mendukung tumbuhnya kondisi psikologis kondusif untuk saling memahami keberadaan agama-agama. Bahkan melahirkan keterasingan dan kecemburuan antarumat beragama. Saling keterasingan, kurang kenal mengenal ini menjadikan agama menjadi sumber konflik. Masih ditambah adanya kelebihan materi, yang sering dijadikan iming penyebaran agama. Upaya untuk saling menyatu, saling mengenal penting sehingga kesan keliru dapat diluruskan.
Dapatkan Indonesia bangkit kembali?
Para pemimpin belum menyepakati landasan bersama hendak kemana kita berjalan. Pembahasan tentang perubahan UUD 1945 berjalan alot. Masalah kebijakan dan penyelenggara pemerintahan. Agaknya ada kepentingan jangka pendek bersama sehingga lebih mudah dikompromi. Konflik antarkelompok akan terus berjalan. Peranan tokoh menjadi amat dominan sehingga demokrasi masih terbatas demokrasi diantara para tokoh. Kecendrungan terbentuknya pemerintahan sentralistis semakin kuat.
Ada 2 hal yang belum dimiliki. Pertama kekeliruan menetapkan sistem pemilihan umum. Dengan sistem pemilu proposional, membuka terbentuknya sistem pemerintahan sentralistis. Kedua, karena belum memiliki tradisi-demokrasi. Sikap yang ditunjukkan sebagian elite politik kurang mempedulikan suara terbanyak hasil pemilu lalu, terselip sikap tidak demokratis. Keberadaan bangsa tergantung dari kesatuan wilayan NKRI. Keberhasilan mengatasi proses ’disintegrasi’ akan menentukan upaya bangkit kembali. Alasan mengapa menghadapi disintegrasi bangsa. Pertama, faktor historis ditambah kekecewaan selama bergabung dengan NKRI. Kedua, karena pluralnya bangsa ini dari segi etnis, agama dan kultur. Ketiga, dugaan keterlibatan asing dengan pecahnya Indonesia.
Indonesia perlu belajar dari Malaysia
Krisis yang dihadapi Asia merupakan hal yang amat sulit diamati. Hanya dalam 2 bulan, karena devaluasi mata uangnya negara ini menjadi miskin kembali. Penyimpangan yang dilakukan yang dikenal dengan perdagangan bebas. Sehingga pasar bebas dan perdagangan uang harus diatur sehingga menguntungkan semua pihak. Malaysia menyadari tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakan industrialisasi sendiri, sehingga Malaysia harus bergantung pada investor asing dengan memberi berbagai fasilitas. Cadangan devisa cukup untuk membiayai impor selama 4/5 bulan.
Pemerintah dan dunia bisnis dinegara Asia lalu disalahkan. Kenyataan ini menimbulkan pengangguran besar-besaram, proses kemiskinan luar biasa dan instabilitas ekonomi, politik dan ekonomi. Malaysia memiliki sistem tabungan nasional lebih baik melalui pengembangan sistem jaminan sosial.
Agama dan politik: Belajar dari pengalaman Eropa
Kebenaran, kebaikan, kejujuran akan ada di hati manusia. Ini disebut hati nurani. Prinsip demokrasi, suara rakyat adalah suara Tuhan, maka hati nurani manusia adalah suara Tuhan, Sesama umat seagama dapat saling berlawanan, jika berbeda dengan persepsi ’hati nurani’.
Bagian kedua; Perubahan UUD 1945
Indonesia tidak memiliki sejarah lahirnya negara (bagian) terlebih dahulu seperti Australia meskipun dari aspek pluralisme Indonesia memenuhi syarat. Selain itu, konsekuensi bentuk negara federal bahwa negara memiliki lembaga perwakilan.
Demokratisasi
Dua penyebab gelombang demokratisasi. Pertama esensi demokrasi itu sendiri, Kedua adalah perkembangan teknologi informasi. Keduanya menyatu dan menjadi kekuatan. Namun demokrasi itu sendiri bukan segalanya. Demokrasi perlu norma, lembaga yang mapan serta pedoman dan tata laksana yang jelas. Demokrasi perlu waktu. Jika keliru mengenai persepsi demokrasi yang terjadi adalah anarkis dan kekerasan. Informasi melahirkan globalisasi sehingga menimbulkan norma baru dalam bangsa dan negara. Batas negara makin menipis dan hanya bermakna untuk keperluan administrasi pendidikan. Tanpa sadar generasi telah terjadi perubahan, sehingga hanya orang yang memiliki akses informasi yang mampu melihat perkembangan dengan persepsi sama.
Demokrasi melahirkan hak dan kewajiban dan kesempatan sama. Masyarakat tidak menolerir penguasaan manusia lainnya. Pemilu hanya hanya awal dari demokrasi itu sendiri. Hanya dengan pemilu bebas dan adil (free and fair election) akan melahirkan institusi demokrasi (MPR, DPR) sehingga menimbulkan tata laksana demokrasi yang jelas.
Demokrasi dalam keadaan krisis. Demokrasi dapat tertindas sementara oleh kesalahannya sendiri, tapi setelah ia mengalami cobaan pahit, ia akan muncul dengan penuh keinsyafan.
Pemerintahan kuat harus memiliki 2 kriteria utama. Pertama, pemerintahan harus didukung mayoritas kekuatan rakyat. Kedua, memiliki profesionalitas menghadapi masalah yang dihadapi bangsa, baik dalam maupun luar.
Didalam kata Nixon, bahwa hanya dari kedalaman jurang kejatuhan, kita akan melihat puncak kekuasaan. Selalu berikan yang terbaik dan jangan sekali-kali putus asa. Akan selalu ada orang yang membencimu, tapi orang yang membencimu hanya akan menang jika kita juga membencinya dan akan menghancurkan diri sendiri. (wdmp)
Jumat, 29 Juni 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar