Kekhususan suatu bidang mendorong keinginan untuk menjadi lebih baik tampaknya merupakan dambaan kultur akademik keilimiahan. Sayangnya, eforia berkepanjangan berimage buruk untuk perkembangan intelektual muda. Banyak sarjana dengan akademik memuaskan tidak menjadi manusia utuh. Tak jarang, kampus dianggap sebagai intelektual menara gading, tak bisa menyalurkan kreativitas kepada masyarakat awam. MIPA sebagai fakultas eksak, apalagi seharusnya bisa memberikan sumbangsih terhadap karya ilmiah yang bisa menjadi pilihan bagi masalah bangsa.
Etos kerja dan mentalitas intelektual
Banyak pandangan FMIPA sebagai anggapan fakultas ‘privat’ tidak dapat dipungkiri. Namun, memandang ke depan, FMIPA selayaknya berpikir lebih sosial. Dalam artian, tak hanya mengajar namun mencurahkan keilmiahan dalam dunia sekitar ke dunia realitas.
Jika ditinjau dari target Indonesia ke depan, dengan mimpi besarnya tahun 2030—Salah satunya, mewujudkan kualitas hidup modern secara merata (shared growth)-- akankan mimpi hebat ini tercapai? Jelas intelektual muda harus berpikir keras berpikir jauh ke depan. Bangsa yang akan datang ditentukan oleh paradigma pemuda kini. Bukan dari kebetulan bahwa perubahan itu membersamai berbagai penyesuaian struktural serentak di bangsa ini.
Pandangan menara gading menjadi komoditas industri. Dana pendidikan dijadikan pijakan untuk mendapat penghidupan layak. Guru, murid dan realitas memang tiga komponen yang tidak bisa lepas. Menara gading ibarat botol kosong bernama ‘mahasiswa’. Tak jarang minat mengembangkan ilmu sedikit. Sehingga ilmu malah menambah permasalahan masyarakat atau terkukung dalam paradigma sempit.
Kembalikan dunia realitas
Pendidikan ekslusif seharusnya bisa membantu orang awam memahami kondisi dan bersama-sama memikirkan solusi. Mencari kebenaran, ilmuwan senantiasa melengkapi diri dengan budi luhur. Dan ini terlihat dari kapasitas kerja keras, ketekunan, kesetiaan pada tugas, keterbukaan untuk bekerja sama, saling menghargai rekan-rekannya dan hasil-hasil baik mereka. Budi luhur inilah yang akan meningkatkan kemahiran berkomunikasi dan secara wajar menunjukan prilaku moral terhadap dunia alam. Strukturnya yang terarah membuat kaum ilmuwan akan selalu berpikir sistematis, dan inilah karakter organisatoris yang sesungguhnya.
Perhatian kepada mentalitas dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtisar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dari seluruh pengaturan kerja dan pemerataan benda, agar hasil ciptaan dari pemikiran menjadi hadiah bagi bangsa dan bukan menambah derita kemanusiaan. Ciri ilmuwan menuntut disiplin mental ketat dan menuju hasil intelektual yang erat hubungannya dengan keindahan.
Namun, minus pemahaman tentang realitas dunia membuat kecendrungan ‘kehilangan nurani’ dan ini yang menjadi permasalahan bangsa kini. Jangan sampai FMIPA menjadi eForia Menara gadIng PendidikAn baru, bangun kembali negara ini melalui tangan-tangan ilmuwan dan jangan melupakan nurani karena itulah arti hidup ilmuwan yang sebenarnya, karena hanya dengan tanggung jawab etis, kaum intelektual sebagai ilmuwan dapat menghindarkan dirinya dari kehilangan hak istimewanya untuk mengabdi kepada kemanusiaan, sehingga menara gading ini paling tidak terdapat salah satu jalur untuk sampai ke masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar